Laman

Rabu, 12 Desember 2012

Storybuilder: My Life Partner

mau bergalau galau ria????
yukk baca cerita berikut ini...

KLIK di sini : My Life Partner Part#1
KLIK di sini : My Life Partner Part#2
KLIK di sini : My Life Partner Part#3
KLIK di sini : My Life Partner Part#4
KLIK di sini : My Life Partner Part#5

Gimana pendapatnya setelah membaca cerita alakadarnya buatan saya????
Galaunya semakin galau??? apa galaunya berkurang???
di antosnya komen na...hehehe

Sabtu, 08 Desember 2012

Cow road to tower of pisa

inilah si sapi indonesia yang jalan-jalan ke menara Pisa hehehe

Hasil membuat Undangan

Ini lah Hasilnya...jreng-jreng...

Hasil membuat Logo

ini lah hasil berlelah-lelah ria membuat logo..jreng-jreng...


Jalan-Jalan Yukkk

Goes to Mesir hehehehe














Goes to Paris, Prancis hehehe

Hasil membuat kartu ucapan

this is my kartu ucapan...jreng-jreng...

Selasa, 27 November 2012

Pendekatan Whole Language dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD

 Whole Language adalah cara untuk menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran dan tentang orang-orang yang terlibat dalam pembelajara. (Ariyanto, 2012).
Whole language  juga merupakan suatu pendekatan pembelajaran bahasa  yang menyajikan pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Wuryanto, 2010).
Rigg dalam bukunya mengungkapkan bahwa para ahli  whole language berkeyakinan bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah. Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata atau otentik. (Wuryanto, 2010)
Robert mengungkapkan bahwa Pendekatan whole language didasari oleh paham konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu (integrated ). (Wuryanto, 2010).
Sabarti Akhadian mengungkapkan bahwa Whole language adalah suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang didasari paham constructivism. Dalam whole language  bahasa diajarkan secara utuh, tidak terpisah-pisah, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis diajarjan secara terpadu sehingga siswa dapat melihat bahasa sebagai suatu kesatuan (Alfian, 2012).
Froese (Hariyanto, 2012) berpendapat bahwa Pemakaian pendekatan whole language menekankan pada kebebasan guru dalam pembelajaran bahasa. Guru akan mudah menggunakan pendekatan whole language dalam pembelajaran bahasa   apabila   bahasa   yang   diajarkan  digunakan   dalam   aktivitas sehari-hari sehingga komponen bahasa menjadi berarti.
Hartati,T (2009) mengungkapkan bahwa Whole  Language adalah  suatu  pendekatan  pembelajaran  bahasa  secara utuh  (menyeluruh).  Melalui  pendekatan  ini  pembelajaran  dilaksanakan  secara kontekstual, logis, kronologis, dan komunikatif dengan menggunakan setting yang nyata dan  bermakna.  Dalam  pendekatan  ini  terjadi  hubungan  yang  interaktif  antara  4 keterampilan  berbahasa  yaitu  mendengarkan,  berbicara,  membaca  dan  menulis
Gambar Keterampilan berbahasa
Hartati,  T (2009) juga mengemukakan  bahwa  tujuan  model pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan pendekatan “whole language” adalah  mengintegrasikan seluruh keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, menulis) dan komponen kebahasaan (tata bunyi, tata bentuk,  tata  kalimat,  dan  tata  makna)  juga  penggunaan  multimedia,  juga dikaitkan  dengan  pengalaman  lingkungan  dan  pengembangan  fisik, mental, sosial, intelektual dan emosi anak.
Dari pengertian-pengertian para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa Pendekatan Whole Language merupakan pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan pembelajaran secara utuh, jadi komponen komponen bahasa seperti menyimak, menulis, berbicara, dan membaca disajikan secara terpadu. Dan dalam pendekatan Whole Languange, guru berperan sebagai fasilitator.

Menurut Routman dan Froese (Ariyanto, 2012) ada delapan komponen Whole Language, yaitu :
  1. Reading aloud. Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya.
  2. Journal writing. Journal writing atau menulis jurnal. Bagi guru yang menerapkan Whole Language, menulis jurnal adalah komponen yang dapat dengan mudah diterapkan.
  3. Sustained silent reading. Silent reading (SSR) adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibavanya. 
  4. Shared reading. Shared reading adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa dimana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya. 
  5. Guided reading. Dalam guided reading atau disebut juga membaca terbimbing, guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama. 
  6. Guided writing. Dalam guided writing atau menulis terbimbing peran guru adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaiman menulisnya dengan jelas, sistematis dan menarik. 
  7. Independent reading. Independent reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, dimana siswa berlesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya. 
  8.  Independent writing. Independen writing atau menulis bebas, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Teuku Alamsyah (Hariyanto, 2012) mendeskripsikan ada tujuh ciri yang menandakan kelas whole language. Tujuh ciri-ciri whole language, yaitu sebagai berikut:
Pertama, kelas yang menerapkan whole language penuh dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster hasil kerja siswa menghiasi dinding dan bulletin board. Karya tulis siswa dan chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin board yang dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakan yang dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus, buku pentunjuk dan berbagai barang cetak lainnya. Semua ini disusun dengan rapi berdasarkan pengarang atau jenisnya sehingga memudahkan siswa memilih. Walaupun hanya satu sudut yang dijadikan perpustakaan, tetapi buku tersedia di seluruh ruang kelas.
Kedua, di kelas whole language siswa belajar melalui model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Over head projector (OHP) dan transparasi digunakan untuk untuk memperagakan proses menulis. Siswa mendengarkan cerita melalui tape recorder untuk mendapatkan contoh membaca yang benar.
Ketiga, di kelas whole language siswa bekerja dan belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya. Agar siswa dapat belajar sesuai dengan tingkat perkembangannya, di kelas harus tersedia buku dan materi yang menunjang. Buku disusun berdasarkan tingkat kemampuan membaca siswa sehingga siswa dapat memilih buku yang sesuai untuknya. Di kelas juga tersedia meja besar yang dapat digunakan siswa untuk menulis, melakukan editing dengan temannya, atau membuat cover untuk buku yang ditulisnya. Langkah-langkah proses menulis tertempel di dinding sehingga siswa dapat melihatnya setiap saat.
 Keempat, di kelas whole language siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di kelas whole language hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru. Siswa membuat kumpulan kata (word bank), melakukan brainstorming, dan mengumpulkan fakta. Pekerjaan siswa ditulis pada chart, dan terpampang di seluruh ruangan. Siswa menjaga kebersihan dan kerapian kelas. Buku perpustakaan dipinjam dan dikembalikan oleh siswa tanpa bantuan guru. Buku bacaan atau majalah dibawa oleh siswa dari rumah. Pada salah satu bulletin board terpampang pembagian tugas untuk setiap siswa. Siswa bekerja dan bergerak bebas di kelas.
Kelima, di kelas whole language siswa terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Siswa secara aktif terlibat dalam kegiatan pembelajaran yang membantu mengembangkan rasa tanggung jawab dan tidak tergantung. Siswa terlibat dalam kegiatan kelompok kecil atau kegiatan individual. Ada kelompok yang membuat pelajaran sejarah. Siswa lain secara individual menulis respon terhadap buku yang  dibacanya, membuat buku, menuliskan kembali cerita rakyat, atau mengedit draft final. Guru terlibat dalam konferensi dengan siswa atau berkeliling ruangan mengamati siswa, berinteraksi dengan siswa atau membuat catatan tentang kegiatan siswa.
Keenam, di kelas whole language siswa berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru di kelas whole language menyediakan kegiatan belajar dalam berbagai kemampuan sehingga semua siswa dapat berhasil. Hasil tulisan siswa dipajang tanpa ada tanda koreksi. Contoh hasil kerja setiap siswa terpampang di seputar ruang kelas. Siswa dipacu untuk melakukan yang terbaik. Namun, guru tidak mengharapkan kesempurnaan. Yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa dapat diterima. Ketujuh, di kelas whole language mendapat balikan (feed back) positif baik dari guru maupun temannya. Ciri kelas whole language adalah pemberian feed back dengan segera. Meja ditata berkelompok agar memungkinkan siswa berdiskusi, berkolaborasi, dan melakukan konferensi. Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat membangkitkan rasa percaya diri.
Ketujuh siswa berperan aktif dalam pembelajaran. Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas menyampaikan materi. Sebagai fasilitator, guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa. Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.



DAFTAR PUSTAKA



Alfian, A. (2012, April 11). anggitya-alfian.blogspot.com. Retrieved september 13, 2012, from salah satu tugas dari bu laily: http://anggitya-alfian.blogspot.com
Ariyanto, D. (2012, Maret 25). arielyantodanang.blogspot.com. Retrieved September 13, 2012, from Pendekatan Whole Language:http://arielyantodanang.blogspot.com
Hariyanto. (2012, april 16). whole language. Retrieved september 13, 2012, from hariyanto-untuksenja.blogspot.com: http://hariyanto-untuksenja.blogspot.com
Hartati, T. (2009). Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia Di Kelas Renddah. Bandung: UPI PRESS.
Sugarsih, S. Pendekatan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SD.
Wuryanto, A. (2010, agustus 20). aguswuryanto.wordpress.com. Retrieved september 13, 2012, from pendekatan whole language: http://aguswuryanto.wordpress.com

Senin, 26 November 2012

SINOPSIS: Di Bawah Lindungan Ka’bah karya Hamka


Novel Roman karya Hamka yang berjudul ‘Di Bawah Lindungan Ka’bah’ ini menceritakan tentang seorang pemuda yang bernama Hamid, sejak usianya empat tahun ia sudah di tinggal oleh ayahnya. Masa kecilnya ia habiskan untuk membantu ibunya memenuhi kebutuhan sehari-hari sebagai penjual kue keliling. Hingga suatu hari ia bertemu dengan keluarga Engku Haji Jafar yang baik hati dan kaya raya. Karena merasa kasihan melihat tetangganya yang menderita maka keluarga Haji Jafar meminta agar Hamid dan Ibunya tinggal dan bekerja di rumahnya. Dan Hamid diangkat sebagai anak oleh Engku Haji Jafar karena dia anak yang cerdas, rajin, sopan, dan taat beragama. Hamid juga di sekolahkan ke HIS bersama Zainab, anak Haji Jafar.
Tamat dari HIS keduanya kemudian melanjutkan ke Mulo sampai keduanya mendapat ijazah. Dan ternyata selama kebersamaan mereka itu, membuat keduanya saling jatuh cinta. Namun perasaan itu hanya mereka pendam dalam hati. Hamid menyadari bahwa dirinya hanyalah seorang anak dari keluarga miskin yang dibiayai oleh keluarga Haji Jafar. Itulah kenapa dia hanya memendam rasa sukanya terhadap Zainab. Setelah tamat dari Mulo baru mereka berpisah. Zainab menjalani pingitan sesuai adat di desa itu sedangkan Hamid melanjutkan sekolah agama ke Padang Panjang. Di sekolah itulah Hamid mempunyai seorang teman laki-laki yang bernama Saleh.
Suatu hari kabar mengejutkan datang, Hamid mendapat kabar bahwa ayah angkatnya, Haji Jafar meninggal dunia dan tidak lama kemudian, ibu kandungnya pun meninggaldunia. Dan sejak kematian ayah angkatnya, Hamid jarang bahkan tidak pernah menemui Zainab, hingga pada suatu petang, saat Hamid pergijalan-jalan di pesisir, ia bertemu dengan Mak Asiah, ibuangkatnya. Pada pertemuan itu Asiah berharap agar Hamid bisa datang kerumahnya, karena ada suatu hal penting yang ingin dibicarakannya. Pada keesokan harinya Hamid datang kerumah MakAsiah, dan beliau meminta tolong agar Hamid mau membujuk Zainab untuk bersedia dinikahkan dengan kemenakan Haji Jafar. Meskipun permintaan itu bertentangan dengan isihatinya, dia tetap melaksanakan apa yang diminta Mak Asiah. Akan Tetapi permintaan itu ternyata ditolak oleh Zainab dengan alasan ia belum ingin menikah.
Semenjak kejadian itu Hamid tidak pernah datang lagi, dia hanya mengirimkan surat kepada Zainab dan mengatakan bahwa ia akan pergi jauh mengikuti langkah kakinya berjalan. Surat Hamid itulah yang selalu mendampingi Zainab yang dalam kesepian itu.
Hamid meratau sampai ketanah suci, di negeri itu ia bertemu dengan Saleh, temannya dulu. Istri Saleh ternyata adalah sahabat baik Zainab. Dari surat Rosna yang dikirim untuk suaminya, Hamid mengetahui bahwa Zainab sakit dan ia sangat mengharapkan kedatangan Hamid. Zainab sendiri mengirim surat kepada Hamid dan mengatakan bahwa hamid harus kembali, kalau tidak, mungkin akan terjadi sesuatu padanya. Dan benar saja seminggu setelah itu, Zainab menghembuskan nafas terakhirnya. Saleh yang mengetahui kabar meninggalnya Zainab dari istrinya pun tidak tega memberitahu kabar tersebut pada Hamid. Namun akhirnya atas desakan dari Hamid, Saleh memberitahukan kabar tersebut.
Setelah mendengar kabar menyedihkan itu, Hamid tetap memaksakan diri untuk berangkat ke Mina. Namun, dalam perjalanannya, dia jatuh lunglai, sehingga Saleh mengupah orang Badui untuk memapah Hamid. Setelah acara di Mina, mereka kemudian menuju Masjidil Haram. Setelah mengelilingi Ka'bah, Hamid minta diberhentikan di Kiswah. Dan kemudian Hamid pun meninggalkan dunia di hadapan Kabah, menyusul sang kekasih.

Minggu, 25 November 2012

SASTRA ANAK

  Sastra anak adalah sastra yang dibaca anak- anak dengan bimbingan dan pengarahan anggota dewasa suatu masyarakat, sedang penulisannya juga dilakukan oleh orang dewasa. Sastra anak bersumber dari pengalaman, pengetahuan umum, pemahaman psikologis, pedagonis, sosial, hukum, adat, budaya, bahkan agama. Sastra anak lahir kemudian diwariskan oleh nenek moyang secara turun temurun melalui lisan. Sastra anak secara formal dan intitisional dimulai pada abad ke-19.
Tema yang diangkat pada sastra anak beragam yaitu mengenai masalah kehidupan yang mengandung pendidikan, pengajaran, budi pekerti, lingkungan, kebudayaan, anak mandiri dan lainnya. Tema yang diangkat dalam sastra anak menjauhi unsur-unsur kekerasan dan asusila. Selain dimaksudkan untuk menghibur, ia juga dibuat sebagai alat penunjang pendidikan karena unsur-unsurnya yang mendidik.
Jenis-jenis sastra anak :
1.        Bacaan anak usia dini
      Bacaan ini ditulis khusus bagi anak-anak yang masih di bawah umur lima sampai enam tahun. Contoh bacaan ini antara lain: buku huruf, buku berhitung, buku tentang konsep, bacaan untuk pemula, dll.
2.      Kisah-kisah tradisional 
            Kisah-kisah tradisional adalah cerita-cerita karena sifatnya yang anonim dan turun temurun yang dikenal sebagai milik setiap orang, dimiliki oleh setiap bangsa di dunia. Kisah serupa ini biasa disebut folklor, kisah-kisah yang berisi kebijaksanaan, kasih saying dan impian sebuah kelompok dan komunitas yang menjadi milik bersama, bahkan menjadi acuan hidup.  Berikut yang termasuk dalam kisah-kisah tradisional : Pepatah/pribahasa, Cerita binatang, Fabel, Cerita rakyat, Mitos, dan Legenda.

3.      Sajak 
              Sajak anak diciptakan dengan kata-kata yang kuat, kaya dan imajinatif. Sajak-sajak untuk anak dapat mempersoalkan mulai dari hal-hal yang remeh, lucu, kehidupan sehari-hari, tentang alam, masa silam, impian, rasa takut dan sebagainya. Beberapa bentuk puitik tersedia bagi anak-anak misalnya sajak bebas, sajak-sajak yang ditemukan dalam buku bergambar, sajak konkret, puisi naratif dan puisi lirik. 
4.    Fantasi
             Fantasi bersifat khayali dan bersumber dari imajinasi. Misalnya hadirnya peri, dewa, naga, atau objek yang mempunyai kekuatan supranatural sepeti keris, cermin, sapu dan lain-lain. Semua mitos, legenda, cerita rakyat, fabel, dan cerita hantu termasuk dalam cerita fantasi.
5.      Cerita Realistik
              Cerita realistic ialah cerita yang bersumber dari kehidupan nyata dan tidak mengada-ada. Cerita realistic mencakup novel-novel kesejarahan, kisah tentang orang-orang dari negeri seberang dan jauh, juga cerita tentang kehidupan mutakhir.
6.      Biografi 
             Biografi merujuk pada sjarah hidup seseorang. Pada kaitannya dengan sastra anak, biografi biasanya ditulis mengenai orang-orang yang menginspirasi bagi anak anak. Tokohnya digambarkan sebagai individu yang khas sehingga anak bisa belajar dari semangat, cara hidup dan capaian hidup tokoh. Umumnya biofrafi untuk anak disampaikan dalam bentuk fiksi.
7.      Fiksi Kesejarahan
               Ragam ini sebetulnya adalah fiksi realistic yang terjadi pada masa silam. Karena masanya yang cukup lama maka kesejarahannya menjadi nyata dan penting. Fiksi kesejarahan ialah kisah yan tejadi pada masa lalu, dengan penjelasan langsung bahwa masanya haruslah faktual. Cerita bisa bemacam-macam seperti peperangan, peristiwa berdarah, keluarga dan lain-lain yang disukai anak-anak.
8.      Nonfiksi/Buku Informasi
               Nonfiksi atau buku informasi secara khusus memberikan kepada pembacanya pengetahuan perihal masalah atau objek tertentu. Buku-buku itu sangat banyaragamnya seperti membicarakan tentang lautan, gunung, penyakit, makanan dan lain-lain.
9.      Drama 
              Drama yang ditulis khusus untuk anak biasanya menyangkut langsung persoalan anak-anak atau persoalan besar lain yang dianggap perlu mereka pahami dan maknai. Lazimnya drama banyak digunakan di sekolah sebagai alat dan cara untuk menerjemahkan bacaan-bacaan mereka.