Whole Language adalah cara untuk
menyatukan pandangan tentang bahasa, tentang pembelajaran dan tentang orang-orang
yang terlibat dalam pembelajara. (Ariyanto, 2012).
Whole language
juga merupakan suatu pendekatan pembelajaran bahasa yang menyajikan
pembelajaran bahasa secara utuh atau tidak terpisah-pisah. (Wuryanto,
2010).
Rigg dalam
bukunya mengungkapkan bahwa para ahli whole language berkeyakinan
bahwa bahasa merupakan satu kesatuan (whole) yang tidak dapat dipisah-pisah.
Oleh karena itu, pengajaran keterampilan berbahasa dan komponen bahasa seperti
tata bahasa dan kosakata disajikan secara utuh bermakna dan dalam situasi nyata
atau otentik. (Wuryanto, 2010)
Robert
mengungkapkan bahwa Pendekatan whole language didasari oleh paham
konstruktivisme yang menyatakan bahwa anak membentuk sendiri pengetahuannya
melalui peran aktifnya dalam belajar secara utuh (whole ) dan terpadu
(integrated ). (Wuryanto, 2010).
Sabarti
Akhadian mengungkapkan bahwa Whole language adalah suatu pendekatan pembelajaran
bahasa yang didasari paham constructivism.
Dalam whole language bahasa diajarkan secara utuh, tidak
terpisah-pisah, menyimak, berbicara, membaca, dan menulis diajarjan secara
terpadu sehingga siswa dapat melihat bahasa sebagai suatu kesatuan (Alfian, 2012).
Froese (Hariyanto, 2012) berpendapat bahwa Pemakaian pendekatan whole
language menekankan pada kebebasan guru dalam pembelajaran bahasa. Guru
akan mudah menggunakan pendekatan whole language dalam pembelajaran
bahasa apabila bahasa yang
diajarkan digunakan dalam aktivitas sehari-hari
sehingga komponen bahasa menjadi berarti.
Hartati,T (2009) mengungkapkan bahwa Whole Language adalah suatu pendekatan pembelajaran
bahasa secara utuh (menyeluruh).
Melalui pendekatan ini
pembelajaran dilaksanakan secara kontekstual, logis, kronologis, dan
komunikatif dengan menggunakan setting yang nyata dan bermakna.
Dalam pendekatan ini
terjadi hubungan yang
interaktif antara 4 keterampilan berbahasa
yaitu mendengarkan, berbicara,
membaca dan menulis
Gambar Keterampilan berbahasa
Hartati, T (2009) juga
mengemukakan bahwa tujuan
model pembelajaran Bahasa Indonesia berdasarkan pendekatan “whole
language” adalah mengintegrasikan
seluruh keterampilan berbahasa (mendengarkan, berbicara, membaca, menulis) dan
komponen kebahasaan (tata bunyi, tata bentuk,
tata kalimat, dan
tata makna) juga
penggunaan multimedia, juga dikaitkan dengan
pengalaman lingkungan dan
pengembangan fisik, mental,
sosial, intelektual dan emosi anak.
Dari pengertian-pengertian para ahli di atas dapat
disimpulkan bahwa Pendekatan Whole Language merupakan pendekatan pembelajaran
bahasa yang menyajikan pembelajaran secara utuh, jadi komponen komponen bahasa
seperti menyimak, menulis, berbicara, dan membaca disajikan secara terpadu. Dan
dalam pendekatan Whole Languange, guru berperan sebagai fasilitator.
Menurut Routman dan Froese (Ariyanto, 2012) ada delapan komponen
Whole Language, yaitu :
- Reading aloud. Reading aloud adalah kegiatan membaca yang dilakukan oleh guru untuk siswanya.
- Journal writing. Journal writing atau menulis jurnal. Bagi guru yang menerapkan Whole Language, menulis jurnal adalah komponen yang dapat dengan mudah diterapkan.
- Sustained silent reading. Silent reading (SSR) adalah kegiatan membaca dalam hati yang dilakukan oleh siswa. Dalam kegiatan ini siswa diberi kesempatan untuk memilih sendiri buku atau materi yang akan dibavanya.
- Shared reading. Shared reading adalah kegiatan membaca bersama antara guru dan siswa dimana setiap orang mempunyai buku yang sedang dibacanya.
- Guided reading. Dalam guided reading atau disebut juga membaca terbimbing, guru menjadi pengamat dan fasilitator. Dalam guided reading semua siswa membaca dan mendiskusikan buku yang sama.
- Guided writing. Dalam guided writing atau menulis terbimbing peran guru adalah sebagai fasilitator, membantu siswa menemukan apa yang ingin ditulisnya dan bagaiman menulisnya dengan jelas, sistematis dan menarik.
- Independent reading. Independent reading atau membaca bebas adalah kegiatan membaca, dimana siswa berlesempatan untuk menentukan sendiri materi yang ingin dibacanya.
- Independent writing. Independen writing atau menulis bebas, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan menulis, meningkatkan kebiasaan menulis, dan meningkatkan kemampuan berpikir kritis.
Teuku Alamsyah (Hariyanto, 2012) mendeskripsikan ada tujuh ciri yang
menandakan kelas whole language. Tujuh ciri-ciri whole language,
yaitu sebagai berikut:
Pertama, kelas yang menerapkan whole language penuh
dengan barang cetakan. Barang-barang tersebut kabinet dan sudut belajar. Poster
hasil kerja siswa menghiasi dinding dan bulletin board. Karya tulis
siswa dan chart yang dibuat siswa menggantikan bulletin board yang
dibuat oleh guru. Salah satu sudut kelas diubah menjadi perpustakan yang
dilengkapi berbagai jenis buku (tidak hanya buku teks), majalah, koran, kamus,
buku pentunjuk dan berbagai barang cetak lainnya. Semua ini disusun dengan rapi
berdasarkan pengarang atau jenisnya sehingga memudahkan siswa memilih. Walaupun
hanya satu sudut yang dijadikan perpustakaan, tetapi buku tersedia di seluruh
ruang kelas.
Kedua, di kelas whole language siswa belajar melalui
model atau contoh. Guru dan siswa bersama-sama melakukan kegiatan membaca,
menulis, menyimak, dan berbicara. Over head projector (OHP) dan
transparasi digunakan untuk untuk memperagakan proses menulis. Siswa
mendengarkan cerita melalui tape recorder untuk mendapatkan contoh
membaca yang benar.
Ketiga, di kelas whole language siswa bekerja dan belajar
sesuai dengan tingkat perkembangannya. Agar siswa dapat belajar sesuai dengan
tingkat perkembangannya, di kelas harus tersedia buku dan materi yang
menunjang. Buku disusun berdasarkan tingkat kemampuan membaca siswa sehingga
siswa dapat memilih buku yang sesuai untuknya. Di kelas juga tersedia meja
besar yang dapat digunakan siswa untuk menulis, melakukan editing dengan
temannya, atau membuat cover untuk buku yang ditulisnya. Langkah-langkah
proses menulis tertempel di dinding sehingga siswa dapat melihatnya setiap
saat.
Keempat, di kelas whole
language siswa berbagi tanggung jawab dalam pembelajaran. Peran guru di
kelas whole language hanya sebagai fasilitator dan siswa mengambil alih
beberapa tanggung jawab yang biasanya dilakukan oleh guru. Siswa membuat
kumpulan kata (word bank), melakukan brainstorming, dan
mengumpulkan fakta. Pekerjaan siswa ditulis pada chart, dan terpampang
di seluruh ruangan. Siswa menjaga kebersihan dan kerapian kelas. Buku
perpustakaan dipinjam dan dikembalikan oleh siswa tanpa bantuan guru. Buku
bacaan atau majalah dibawa oleh siswa dari rumah. Pada salah satu bulletin
board terpampang pembagian tugas untuk setiap siswa. Siswa bekerja dan
bergerak bebas di kelas.
Kelima, di kelas whole language siswa
terlibat secara aktif dalam pembelajaran bermakna. Siswa secara aktif terlibat
dalam kegiatan pembelajaran yang membantu mengembangkan rasa tanggung jawab dan
tidak tergantung. Siswa terlibat dalam kegiatan kelompok kecil atau kegiatan
individual. Ada kelompok yang membuat pelajaran sejarah. Siswa lain secara
individual menulis respon terhadap buku yang dibacanya, membuat buku,
menuliskan kembali cerita rakyat, atau mengedit draft final. Guru terlibat
dalam konferensi dengan siswa atau berkeliling ruangan mengamati siswa, berinteraksi
dengan siswa atau membuat catatan tentang kegiatan siswa.
Keenam, di kelas whole language siswa
berani mengambil risiko dan bebas bereksperimen. Guru di kelas whole
language menyediakan kegiatan belajar dalam berbagai kemampuan sehingga
semua siswa dapat berhasil. Hasil tulisan siswa dipajang tanpa ada tanda
koreksi. Contoh hasil kerja setiap siswa terpampang di seputar ruang kelas.
Siswa dipacu untuk melakukan yang terbaik. Namun, guru tidak mengharapkan
kesempurnaan. Yang penting adalah respon atau jawaban yang diberikan siswa
dapat diterima. Ketujuh, di kelas whole language mendapat balikan (feed
back) positif baik dari guru maupun temannya. Ciri kelas whole language adalah
pemberian feed back dengan segera. Meja ditata berkelompok agar
memungkinkan siswa berdiskusi, berkolaborasi, dan melakukan konferensi.
Konferensi antara guru dan siswa memberi kesempatan pada siswa untuk melakukan
penilaian diri dan melihat perkembangan diri. Siswa yang mempresentasikan hasil
tulisannya mendapatkan respon positif dari temannya. Hal ini dapat
membangkitkan rasa percaya diri.
Ketujuh siswa berperan aktif dalam pembelajaran.
Guru tidak perlu berdiri lagi di depan kelas menyampaikan materi. Sebagai
fasilitator, guru berkeliling kelas mengamati dan mencatat kegiatan siswa.
Dalam hal ini guru menilai siswa secara informal.
DAFTAR PUSTAKA
DAFTAR PUSTAKA
Alfian, A. (2012, April 11). anggitya-alfian.blogspot.com.
Retrieved september 13, 2012, from salah satu tugas dari bu laily:
http://anggitya-alfian.blogspot.com
Ariyanto, D. (2012, Maret 25). arielyantodanang.blogspot.com.
Retrieved September 13, 2012, from Pendekatan Whole
Language:http://arielyantodanang.blogspot.com
Hariyanto. (2012, april 16). whole language. Retrieved
september 13, 2012, from hariyanto-untuksenja.blogspot.com:
http://hariyanto-untuksenja.blogspot.com
Hartati, T. (2009). Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia
Di Kelas Renddah. Bandung: UPI PRESS.
Sugarsih, S. Pendekatan dalam Pembelajaran Bahasa
Indonesia di SD.
Wuryanto, A. (2010,
agustus 20). aguswuryanto.wordpress.com. Retrieved september 13, 2012,
from pendekatan whole language: http://aguswuryanto.wordpress.com
kog gak ada daftar pustakanya mbak??dikasih biar lebih komplit, hhee
BalasHapusmaturnuwun
iya gimana sih,hhee
Hapus